Jakarta, 5 Mei 2026 – Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluncurkan operasi “Project Freedom” di Selat Hormuz dinilai sebagai upaya menunjukkan momentum kekuatan di tengah ketegangan dengan Iran. Namun, respons Iran yang tidak langsung melakukan perlawanan besar juga memunculkan berbagai analisis.
Salah satu alasan utama adalah strategi menahan eskalasi. Iran dinilai tidak ingin terpancing untuk melakukan serangan besar yang berpotensi memicu perang terbuka dengan Amerika Serikat. Dalam situasi saat ini, kedua pihak masih berada dalam fase saling menekan tanpa konflik penuh.
Selain itu, Iran disebut masih mempertimbangkan posisi tawar dalam dinamika geopolitik. Dengan tidak bereaksi secara frontal, Iran dapat menjaga fleksibilitas dalam menghadapi tekanan sekaligus mempertahankan pengaruhnya di kawasan.
Faktor lain adalah pendekatan taktis yang selama ini digunakan Iran. Alih-alih konfrontasi langsung, Iran cenderung menggunakan strategi tidak langsung yang dinilai lebih efektif dan berisiko lebih rendah dibandingkan perang terbuka.
Di sisi lain, langkah Amerika Serikat juga dianggap sebagai upaya memancing reaksi. Operasi tersebut dinilai dirancang untuk menguji respons Iran sekaligus memperkuat posisi strategis di kawasan yang sangat vital bagi jalur energi dunia.
Kondisi internal dan tekanan ekonomi juga menjadi pertimbangan Iran untuk tidak terburu-buru mengambil langkah ekstrem. Sikap hati-hati dinilai lebih menguntungkan dibandingkan mengambil risiko konflik besar yang dampaknya bisa meluas.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi ajang adu strategi antara kedua negara. Amerika Serikat berupaya menunjukkan dominasi, sementara Iran memilih menahan diri sambil menghitung langkah berikutnya secara lebih matang.