Jakarta, 7 Mei 2026 – Perwakilan Korea Utara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa negaranya akan tetap mempertahankan kepemilikan senjata nuklir meski tekanan internasional terus meningkat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internasional di tengah ketegangan keamanan kawasan Asia Timur yang masih menjadi perhatian dunia.
Utusan Korea Utara menyebut program nuklir dianggap sebagai bagian penting dari strategi pertahanan dan keamanan nasional negara tersebut.
Menurut mereka, kepemilikan senjata nuklir dinilai perlu untuk menghadapi ancaman eksternal dan menjaga kedaulatan negara.
Pernyataan itu kembali memperlihatkan sikap Pyongyang yang selama ini menolak berbagai desakan internasional untuk menghentikan pengembangan program nuklirnya.
Pengamat hubungan internasional menilai posisi Korea Utara terkait senjata nuklir telah menjadi salah satu isu keamanan global paling kompleks selama beberapa dekade terakhir.
Berbagai upaya diplomasi dan perundingan internasional sebelumnya telah dilakukan, namun belum menghasilkan kesepakatan permanen mengenai denuklirisasi Semenanjung Korea.
Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara lain selama ini terus menyuarakan kekhawatiran terhadap pengembangan rudal dan program nuklir Korea Utara.
Mereka menilai aktivitas tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan dan mengancam stabilitas kawasan Asia Timur.
Di sisi lain, Korea Utara berkali-kali menyatakan bahwa program nuklir mereka bersifat defensif dan diperlukan untuk menjaga keamanan negara.
Pengamat geopolitik menyebut isu nuklir Korea Utara tidak hanya berkaitan dengan keamanan regional, tetapi juga persaingan geopolitik global antara negara-negara besar.
Karena itu, setiap pernyataan resmi dari Pyongyang mengenai senjata nuklir selalu mendapat perhatian serius dari dunia internasional.
PBB sendiri selama bertahun-tahun telah menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Korea Utara terkait pengembangan program nuklir dan rudalnya.
Namun tekanan ekonomi dan diplomatik tersebut belum menghentikan ambisi Pyongyang dalam mempertahankan kemampuan nuklirnya.
Pengamat keamanan internasional menilai situasi di Semenanjung Korea tetap sensitif karena kesalahan perhitungan politik atau militer dapat memicu eskalasi yang lebih luas.
Karena itu, jalur diplomasi dinilai tetap penting meski hubungan antarnegara terkait isu tersebut sering mengalami kebuntuan.
Masyarakat internasional kini terus memantau perkembangan hubungan Korea Utara dengan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Timur.
Pernyataan terbaru utusan Korea Utara di PBB diperkirakan akan kembali memicu perdebatan mengenai efektivitas sanksi internasional dan masa depan diplomasi nuklir di kawasan tersebut.
Dengan sikap yang kembali ditegaskan secara terbuka di forum PBB, Korea Utara menunjukkan bahwa isu senjata nuklir masih akan tetap menjadi bagian utama dari kebijakan keamanan dan politik luar negeri negara tersebut.