Jakarta, 24 Mei 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai di tengah meningkatnya intensitas negosiasi terkait konflik dan program nuklir Teheran. Dalam beberapa pernyataan terbaru, Trump menyebut pembicaraan antara kedua pihak telah mengalami kemajuan signifikan meski masih ada sejumlah isu sensitif yang belum sepenuhnya disepakati. Pemerintah Amerika Serikat disebut tetap optimistis bahwa jalur diplomasi dapat menghasilkan kesepakatan baru yang mampu meredakan ketegangan kawasan Timur Tengah sekaligus membuka jalan menuju stabilitas yang lebih luas.
Menurut laporan media internasional, negosiasi yang berlangsung saat ini mencakup sejumlah isu utama seperti pembatasan program nuklir Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, hingga kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Teheran. Trump bahkan menyebut kesepakatan tersebut sudah “sebagian besar dinegosiasikan”, meski pemerintah AS tetap menegaskan bahwa proses finalisasi masih membutuhkan persetujuan penuh dari pimpinan Iran dan penyelesaian detail teknis lainnya. Pengamat hubungan internasional menjelaskan bahwa kesepakatan ini menjadi sangat penting karena konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran selama bertahun-tahun telah memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi global, terutama sektor energi dunia.
Di sisi lain, sejumlah pihak di Amerika Serikat justru mulai mengkritik arah negosiasi tersebut. Beberapa politisi konservatif menilai kesepakatan baru dengan Iran berpotensi terlalu longgar dan dianggap mirip dengan perjanjian nuklir era sebelumnya yang pernah ditinggalkan Trump pada masa jabatan terdahulu. Namun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membela langkah diplomasi tersebut dengan menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir sambil mencari solusi yang dapat mengakhiri konflik dan mengurangi risiko perang lebih besar di kawasan.
Sementara itu, laporan lain menyebut Iran juga mulai menunjukkan sinyal keterbukaan terhadap beberapa poin utama dalam proposal damai, termasuk kemungkinan pembatasan pengayaan uranium sebagai bagian dari kesepakatan jangka panjang. Meski demikian, pemerintah Iran tetap menekankan bahwa mereka tidak ingin dianggap menyerah terhadap tekanan Barat dan masih mempertahankan sejumlah posisi strategis terkait kedaulatan nasional serta pengaruh regional mereka. Pengamat geopolitik menjelaskan bahwa proses negosiasi dengan Iran selalu berjalan rumit karena melibatkan faktor politik domestik, tekanan internasional, hingga dinamika keamanan Timur Tengah yang sangat sensitif.
Optimisme Donald Trump terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama untuk mengurangi ketegangan global yang selama ini memengaruhi stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. Pengamat politik internasional menilai apabila kesepakatan benar-benar tercapai, dampaknya dapat sangat besar terhadap pasar energi, keamanan Timur Tengah, dan hubungan geopolitik global secara keseluruhan. Namun berbagai pihak juga mengingatkan bahwa negosiasi AS-Iran selama ini sering mengalami perubahan mendadak sehingga proses finalisasi tetap akan sangat bergantung pada kompromi politik dan kepentingan strategis kedua negara dalam beberapa hari mendatang.