Padang, 9 September 2026 – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade kembali memberikan bantuan kepada keluarga yang tengah menghadapi kesulitan biaya pengobatan anak dengan penyakit jantung. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan beban keluarga yang harus menjalani rangkaian pemeriksaan dan perawatan medis dalam waktu cukup panjang. Kondisi penyakit jantung pada anak membutuhkan penanganan khusus dan dalam beberapa kasus pasien harus mendapatkan layanan di rumah sakit rujukan dengan fasilitas kardiovaskular yang lebih lengkap. Selain biaya tindakan medis, keluarga juga menghadapi kebutuhan lain seperti transportasi, akomodasi, konsumsi, obat tertentu, dan kebutuhan sehari-hari selama mendampingi anak menjalani pengobatan. Andre mengatakan kondisi semacam itu membutuhkan perhatian bersama agar keterbatasan ekonomi tidak membuat keluarga menghentikan proses perawatan. Ia berharap bantuan yang diberikan dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pengobatan sekaligus mengurangi tekanan ekonomi yang dirasakan keluarga.
Andre mengatakan dirinya mendapatkan informasi mengenai kondisi anak tersebut dan kesulitan yang sedang dihadapi keluarganya selama menjalani proses pengobatan. Setelah mengetahui situasi tersebut, ia kemudian berupaya memberikan bantuan agar penanganan medis dapat terus dilanjutkan sesuai arahan dokter. Menurutnya, persoalan kesehatan anak harus mendapatkan perhatian karena keterlambatan penanganan berpotensi memengaruhi perkembangan kondisi pasien. Keluarga juga membutuhkan dukungan psikologis karena proses pengobatan penyakit jantung tidak selalu dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Pemeriksaan lanjutan, kontrol berkala, hingga kemungkinan tindakan medis tertentu dapat membuat orang tua harus bolak-balik mendatangi rumah sakit. Situasi tersebut menjadi semakin berat bagi keluarga dengan pendapatan terbatas.
Penyakit jantung pada anak memang menjadi salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan medis secara komprehensif. Kementerian Kesehatan sebelumnya memperkirakan terdapat puluhan ribu kasus baru penyakit jantung bawaan pada anak di Indonesia setiap tahun, sementara kemampuan layanan untuk memberikan tindakan definitif masih jauh lebih terbatas dibandingkan jumlah pasien. Sebagian anak membutuhkan operasi, sedangkan pasien lainnya dapat menjalani intervensi nonbedah sesuai jenis kelainan dan tingkat keparahan kondisi. Rumah sakit rujukan nasional seperti Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menjadi salah satu fasilitas yang menangani kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi. Namun, antrean pasien dan kebutuhan pembiayaan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Pemerintah terus memperluas kemampuan rumah sakit daerah agar semakin banyak kasus dapat ditangani tanpa seluruh pasien harus dirujuk ke Jakarta.
Besarnya biaya penanganan juga menjadi salah satu persoalan bagi keluarga pasien. Satu tindakan operasi jantung anak dapat membutuhkan biaya sangat besar karena melibatkan dokter dengan keahlian khusus, fasilitas ruang operasi, perawatan intensif, obat, serta perangkat medis berteknologi tinggi. Sebagian pembiayaan memang dapat ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Nasional sesuai ketentuan, tetapi keluarga tetap dapat menghadapi pengeluaran tambahan selama mendampingi pasien. Bagi warga yang harus melakukan perjalanan dari Sumatera Barat menuju rumah sakit rujukan di luar daerah, biaya transportasi dan tempat tinggal menjadi beban tersendiri. Kondisi tersebut membuat dukungan sosial dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat, maupun masyarakat umum tetap dibutuhkan. Bantuan yang diberikan Andre diarahkan untuk membantu kebutuhan yang muncul selama proses perawatan tersebut.
Andre menilai akses terhadap pelayanan kesehatan harus tetap terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan kemampuan ekonominya. Ia sebelumnya beberapa kali terlibat membantu warga Sumatera Barat yang membutuhkan pengobatan, baik dengan memberikan bantuan langsung maupun membantu menghubungkan pasien dengan rumah sakit dan program jaminan kesehatan. Dalam sejumlah kasus, bantuan juga diberikan kepada keluarga yang membutuhkan biaya pendamping selama menjalani pengobatan di luar daerah. Menurut Andre, anggota legislatif tidak hanya memiliki fungsi dalam pembentukan kebijakan dan pengawasan, tetapi juga perlu mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan turun menemui warga, kebutuhan yang sebelumnya hanya terlihat sebagai laporan dapat dipahami secara lebih konkret. Persoalan kesehatan menjadi salah satu bidang yang menurutnya membutuhkan respons cepat karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
Kepedulian terhadap pasien jantung dari Sumatera Barat juga sebelumnya dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial. Andre bersama Ikatan Keluarga Minangkabau pernah mengunjungi pasien asal Sumatera Barat yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita serta rumah singgah di Jakarta. Bantuan diberikan untuk membantu keluarga yang harus tinggal sementara di ibu kota selama anggota keluarganya mendapatkan perawatan. Rumah singgah memiliki peranan penting karena pasien rujukan tidak selalu dapat langsung menjalani tindakan medis ketika tiba di Jakarta. Mereka dapat membutuhkan waktu untuk pemeriksaan, menunggu jadwal tindakan, dan menjalani kontrol setelah mendapatkan perawatan. Tanpa dukungan tempat tinggal sementara, biaya yang harus ditanggung keluarga dapat meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengobatan penyakit jantung tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dokter dan rumah sakit. Sistem rujukan, transportasi pasien, tempat tinggal keluarga, jaminan pembiayaan, serta keberlanjutan kontrol setelah tindakan menjadi bagian yang saling berhubungan. Anak yang telah mendapatkan operasi atau tindakan medis tetap membutuhkan pemantauan untuk memastikan perkembangan kondisinya berjalan sesuai harapan. Orang tua juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai obat, aktivitas, pola makan, dan jadwal pemeriksaan berikutnya. Karena itu, bantuan keuangan yang diterima keluarga diharapkan dapat memberikan ruang agar mereka lebih fokus mendampingi proses pemulihan anak. Dukungan tersebut menjadi semakin penting ketika salah satu orang tua harus berhenti bekerja sementara untuk menemani pasien selama perawatan.
Di Sumatera Barat, RSUP Dr. M. Djamil Padang menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama yang menangani berbagai kasus kompleks dari kabupaten dan kota. Andre sebelumnya juga terlibat dalam upaya memperkuat fasilitas rumah sakit tersebut, termasuk mengawal peningkatan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjaga pelayanan kepada pasien. Menurutnya, penguatan rumah sakit rujukan di daerah menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas kesehatan di Pulau Jawa. Apabila kapasitas dokter, peralatan, ruang perawatan, dan layanan spesialis terus ditingkatkan, semakin banyak pasien dapat memperoleh tindakan lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Kondisi tersebut sekaligus dapat mengurangi pengeluaran keluarga untuk perjalanan dan akomodasi. Namun, pengembangan layanan membutuhkan proses sehingga sistem rujukan nasional tetap diperlukan untuk menangani kasus yang belum dapat dilayani di daerah.
Andre juga mendorong agar masyarakat yang menghadapi persoalan serupa tidak ragu mencari bantuan melalui jalur resmi yang tersedia. Pemerintah daerah, dinas kesehatan, rumah sakit, BPJS Kesehatan, Baznas, maupun lembaga sosial memiliki sejumlah mekanisme yang dapat dimanfaatkan sesuai persyaratan masing-masing. Pendataan dan dokumen medis perlu disiapkan agar kebutuhan pasien dapat diverifikasi dan diarahkan menuju fasilitas yang tepat. Kolaborasi berbagai pihak dinilai lebih efektif daripada mengandalkan bantuan individual karena pengobatan penyakit kronis dapat membutuhkan pendampingan dalam waktu panjang. Masyarakat yang memiliki kemampuan juga dapat ikut membantu melalui lembaga yang memiliki mekanisme penyaluran transparan. Dengan dukungan tersebut, keluarga pasien diharapkan tidak merasa menghadapi proses pengobatan seorang diri.
Bantuan untuk anak penderita penyakit jantung tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap akses kesehatan masyarakat yang masih menghadapi kendala ekonomi. Andre berharap keluarga tetap mengikuti seluruh rekomendasi dokter dan tidak menghentikan pengobatan hanya karena kekhawatiran terhadap biaya. Ia juga menginginkan koordinasi antara rumah sakit, pemerintah daerah, jaminan kesehatan, dan berbagai lembaga sosial terus diperkuat sehingga pasien dengan penyakit serius dapat memperoleh penanganan secepat mungkin. Bagi keluarga, dukungan biaya memberikan kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada kesehatan anak tanpa tekanan ekonomi yang terlalu besar selama menjalani perawatan. Sementara dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas layanan jantung anak di berbagai daerah tetap menjadi kebutuhan agar kesenjangan pelayanan dapat diperkecil. Dengan semakin luasnya fasilitas dan dukungan pembiayaan, anak-anak dengan penyakit jantung diharapkan memperoleh kesempatan lebih besar untuk mendapatkan tindakan medis yang tepat dan menjalani kehidupan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.