Jakarta, 10 September 2026 – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 10 September 2026. Berdasarkan sejumlah acuan pasar, rupiah bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS, dengan salah satu data pasar menunjukkan posisi sekitar Rp17.547. Sementara itu, data Bloomberg pada pembukaan perdagangan mencatat rupiah di sekitar Rp17.512 hingga Rp17.539 per dolar AS sebelum bergerak fluktuatif. Perbedaan angka tersebut terjadi karena sumber data dan waktu pencatatan transaksi tidak sama. Tekanan terhadap mata uang Garuda terutama datang dari ketidakpastian global, lonjakan harga minyak, serta eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.
Harga minyak menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan pasar karena Brent kembali menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Pada perdagangan terbaru, harga Brent bahkan bergerak di sekitar 102 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate berada mendekati 98 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal dan fasilitas energi meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Konflik yang kembali memanas membuat risiko gangguan distribusi melalui kawasan Teluk semakin besar. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, kenaikan harga energi global dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan investor karena jalur tersebut memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur perairan tersebut. Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz kini jauh berada di bawah kondisi normal setelah konflik berlangsung selama beberapa bulan. Serangan terhadap kapal tanker semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih besar ke dalam harga minyak.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan serangan terhadap aset masing-masing. Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran, sementara Iran menyatakan telah menyerang sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap jalur perdagangan energi. Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi semakin memperbesar kekhawatiran mengenai keamanan pasokan kawasan Teluk. Situasi geopolitik seperti ini biasanya mendorong investor meningkatkan kehati-hatian terhadap aset negara berkembang.
Kenaikan harga minyak mempunyai hubungan penting dengan pergerakan rupiah karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk energi dalam jumlah besar. Ketika harga minyak dunia meningkat, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi berpotensi ikut bertambah. Permintaan valuta asing yang lebih tinggi dapat menjadi salah satu faktor pemberi tekanan terhadap rupiah apabila tidak diimbangi aliran devisa yang memadai. Kenaikan biaya energi juga dapat diteruskan ke berbagai sektor melalui biaya transportasi, logistik, dan produksi. Risiko tersebut kemudian dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter.
Selain minyak, investor sedang mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Perhatian pasar tertuju pada data inflasi AS menjelang pertemuan Federal Reserve berikutnya. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan ekspektasi arah suku bunga. Apabila tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi semakin kuat, ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan dapat menjadi lebih terbatas. Suku bunga AS yang bertahan tinggi cenderung menjaga daya tarik aset berbasis dolar dan dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga ikut menjadi perhatian. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali berada pada tingkat tinggi sehingga investor mempunyai alternatif aset dolar dengan imbal hasil yang menarik. Kondisi tersebut dapat membatasi aliran modal menuju pasar berkembang apabila investor memilih mengurangi risiko. Indonesia harus mempertahankan daya tarik pasar surat utangnya di tengah persaingan mendapatkan modal global. Selisih imbal hasil memang masih memberikan ruang, tetapi investor asing juga memperhitungkan risiko perubahan nilai tukar ketika menempatkan dana dalam aset rupiah.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berasal dari pelemahan fundamental domestik. Pergerakan mata uang Asia pada Kamis menunjukkan kondisi yang bervariasi karena investor sedang merespons perubahan sentimen global. Rupiah sempat memangkas pelemahannya setelah pembukaan perdagangan dan bergerak kembali mendekati Rp17.500 per dolar AS. Aliran dana ke pasar surat utang domestik juga memberikan penopang terhadap mata uang Garuda. Hal tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap aset Indonesia masih tersedia meskipun ketidakpastian eksternal meningkat.
Sebagai pembanding, JISDOR Bank Indonesia pada Rabu, 9 September 2026 berada di level Rp17.552 per dolar AS. Angka tersebut menguat dibandingkan posisi Rp17.618 pada 8 September dan Rp17.653 pada 7 September. Pergerakan beberapa hari tersebut menunjukkan rupiah sebenarnya sempat mendapatkan ruang penguatan sebelum kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis. Karena itu, posisi sekitar Rp17.547 tidak dapat langsung dibaca sebagai pelemahan tajam tanpa memperhatikan acuan dan waktu transaksi. Pasar valuta asing dapat berubah dengan cepat sepanjang perdagangan mengikuti perkembangan dolar, obligasi, komoditas, dan geopolitik.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan respons Bank Indonesia apabila volatilitas rupiah meningkat. Stabilitas nilai tukar mempunyai peranan penting dalam menjaga inflasi dan kepercayaan terhadap pasar keuangan domestik. Intervensi melalui pasar spot, instrumen non-deliverable forward domestik maupun pasar surat berharga menjadi bagian dari perangkat yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas. Namun, arah rupiah dalam jangka pendek tetap sangat dipengaruhi perkembangan global. Eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi membuat volatilitas kembali meningkat sewaktu-waktu.
Dampak kenaikan minyak juga perlu diperhatikan dari sisi perekonomian nasional. Harga energi yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya impor sekaligus memberikan tekanan terhadap anggaran apabila pemerintah harus menjaga stabilitas harga energi domestik. Dunia usaha dapat menghadapi kenaikan biaya distribusi dan bahan baku, sementara konsumen berpotensi merasakan dampaknya apabila tekanan tersebut diteruskan ke harga barang. Pada saat bersamaan, Indonesia mempunyai ekspor sejumlah komoditas yang dapat memperoleh manfaat dari perubahan harga global. Dampak akhirnya terhadap rupiah karena itu bergantung pada kombinasi neraca perdagangan, aliran modal, kebijakan moneter, dan perkembangan harga komoditas.
Pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang diperkirakan masih sensitif terhadap konflik AS-Iran dan harga minyak dunia. Brent yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel menjadi faktor risiko karena menunjukkan pasar semakin khawatir terhadap keamanan pasokan energi. Investor juga menunggu data ekonomi Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan Federal Reserve. Dari dalam negeri, aliran modal asing, kondisi pasar obligasi, dan langkah stabilisasi Bank Indonesia akan menjadi penyeimbang. Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif di sekitar level Rp17.500 per dolar AS selama ketidakpastian geopolitik dan tekanan harga energi belum mereda.