Jakarta, 3 September 2026 – Pemerintah mulai mempersiapkan rekonstruksi dan revitalisasi Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kawasan bersejarah tersebut dilanda kebakaran hebat pada 22 Agustus 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pembangunan kembali kawasan berada di kisaran Rp25 miliar hingga Rp30 miliar. Perkiraan tersebut mencakup pembangunan kembali puluhan rumah adat, kios warga, masjid, serta penataan kawasan secara menyeluruh. Namun, angka tersebut masih berupa estimasi awal karena pemerintah sedang menyusun kajian lebih terperinci mengenai desain dan kebutuhan rekonstruksi. Pembangunan kembali juga tidak akan sekadar mengembalikan kondisi fisik seperti sebelum kebakaran. Pemerintah ingin memasukkan sistem mitigasi bencana agar kejadian serupa dapat dicegah atau dampaknya dapat diminimalkan pada masa mendatang.
Fadli menjelaskan kebutuhan rekonstruksi mencakup sekitar 75 rumah adat, 65 kios, satu masjid, dan sejumlah bagian kawasan lainnya. Kebakaran sebelumnya menyebabkan kerusakan luas karena sebagian besar bangunan menggunakan material tradisional yang mudah terbakar seperti kayu, bambu, dan ilalang. Posisi rumah yang berdekatan juga membuat api dapat berpindah dengan cepat dari satu bangunan menuju bangunan lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama yang akan dievaluasi sebelum pembangunan dimulai. Pemerintah tidak ingin rekonstruksi dilakukan terburu-buru tanpa mempertimbangkan keselamatan warga. Karena itu, tata letak bangunan kemungkinan akan menjadi salah satu bagian yang disesuaikan dengan tetap mempertahankan karakter asli Desa Adat Sade.
Persoalan instalasi listrik juga masuk dalam kajian pemerintah setelah kebakaran. Fadli menilai sistem kelistrikan di kawasan tersebut perlu diperiksa dan ditata agar risiko kebakaran dapat ditekan. Selain itu, ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran perlu mendapatkan perhatian karena kawasan yang dipenuhi bangunan tradisional memiliki tingkat kerentanan tinggi ketika muncul api. Akses bagi petugas dan peralatan pemadam juga harus diperhitungkan dalam desain baru. Langkah mitigasi tersebut menjadi penting karena tujuan rekonstruksi bukan hanya mengembalikan bangunan yang hilang, tetapi juga membuat kawasan lebih tangguh menghadapi bencana. Pemerintah berharap pendekatan tersebut tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan identitas arsitektur tradisional masyarakat Sasak.
Kementerian Kebudayaan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait mengenai proses pemulihan. Fadli juga telah berkomunikasi dengan Menteri Sekretaris Negara untuk membahas langkah yang perlu dilakukan pemerintah pusat. Koordinasi diperlukan karena pemulihan Desa Adat Sade melibatkan aspek kebudayaan, pariwisata, permukiman, infrastruktur, sosial, hingga ekonomi masyarakat. Pemerintah ingin pembagian tugas dan pembiayaan dilakukan secara jelas agar tidak terjadi tumpang tindih program. Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi diperkirakan akan memiliki peran penting dalam mengoordinasikan aspek kebudayaan. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga telah memberikan arahan agar rekonstruksi dan revitalisasi kawasan tersebut segera dilakukan.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 22.00 WITA pada 22 Agustus lalu memberikan dampak besar terhadap salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok tersebut. Selain 75 rumah adat, kerusakan juga dilaporkan terjadi terhadap puluhan toko seni, delapan lumbung alang, satu menara pantau, sejumlah berugak, Bale Beleq, serta beberapa fasilitas umum. Api diduga pertama kali terlihat dari salah satu rumah sebelum dengan cepat merambat menuju bangunan lainnya. Material bangunan yang mudah terbakar serta jarak antarrumah yang sangat dekat membuat proses pemadaman menjadi sulit. Dalam waktu relatif singkat, bagian penting kawasan adat tersebut mengalami kerusakan berat. Musibah itu tidak hanya menghilangkan tempat tinggal, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada pariwisata dan penjualan kerajinan.
Desa Adat Sade memiliki nilai penting karena menjadi salah satu pusat pelestarian kebudayaan masyarakat Sasak sekaligus destinasi wisata utama di Lombok Tengah. Kampung tersebut disebut telah berdiri sejak abad ke-16 dan tradisinya diwariskan selama sekitar 15 generasi. Bentuk rumah, tata ruang, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut. Karena itu, proses pembangunan kembali tidak dapat dilakukan seperti membangun permukiman biasa. Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan keaslian budaya dengan meningkatkan standar keselamatan. Rekonstruksi juga diharapkan tidak mengubah karakter kawasan yang selama ini menjadi identitas Desa Adat Sade.
Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan masterplan rekonstruksi yang diharapkan dapat menjadi acuan pemulihan jangka menengah dan panjang. Rencana tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga keberlanjutan ekonomi masyarakat setelah kehilangan rumah dan tempat usaha. Desa Adat Sade merupakan tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan sehingga berhentinya aktivitas kawasan dapat memengaruhi pendapatan warga. Pemulihan kios dan ruang ekonomi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas seperti sebelumnya. Di sisi lain, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pemulihan psikologis warga, terutama anak-anak yang mengalami langsung peristiwa kebakaran. Dokumen kependudukan warga yang hilang atau rusak akibat kebakaran juga dipersiapkan untuk diterbitkan kembali.
Target pemerintah adalah mempercepat proses rekonstruksi sehingga pembangunan dapat mulai dikerjakan dan sebisa mungkin diselesaikan pada 2026. Namun, percepatan tersebut tetap harus mempertimbangkan kajian teknis, pelestarian budaya, dan sistem mitigasi bencana. Pemerintah ingin Desa Adat Sade yang dibangun kembali memiliki perlindungan lebih baik tanpa kehilangan karakter tradisionalnya. Pengalaman kebakaran tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengelolaan kampung adat lainnya di Indonesia yang memiliki konstruksi serupa. Banyak kawasan tradisional menggunakan bahan alami yang menjadi bagian penting dari nilai budaya, tetapi pada saat bersamaan memiliki kerentanan terhadap kebakaran. Karena itu, teknologi keselamatan perlu diterapkan dengan cara yang tidak merusak keaslian bangunan.
Dengan perkiraan kebutuhan Rp25 miliar hingga Rp30 miliar, rekonstruksi Desa Adat Sade akan menjadi proyek pemulihan budaya sekaligus permukiman yang cukup besar. Pemerintah masih menghitung kebutuhan secara rinci sebelum menentukan pembagian pembiayaan di antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Fadli menekankan pembangunan kembali harus menghasilkan kawasan yang lebih aman dan mampu menghadapi risiko bencana di masa depan. Keaslian rumah adat, kehidupan masyarakat, serta fungsi Desa Sade sebagai pusat kebudayaan Sasak tetap menjadi pertimbangan utama. Jika perencanaan dapat diselesaikan dengan cepat, pembangunan diharapkan segera dimulai sehingga warga dapat kembali menjalani kehidupan dan aktivitas ekonomi mereka. Pemulihan Desa Adat Sade pun diharapkan tidak sekadar mengembalikan bangunan yang terbakar, tetapi sekaligus menjaga warisan budaya tersebut untuk generasi berikutnya.