Jakarta, 16 Mei 2026 – Kisah mengenai program pelatihan lumba-lumba militer yang dikembangkan Uni Soviet kembali menjadi perbincangan setelah berbagai cerita lama tentang penggunaan mamalia laut untuk kepentingan militer viral di media sosial dan forum internasional. Salah satu cerita yang paling banyak menarik perhatian adalah mengenai lumba-lumba yang disebut dilatih untuk misi berbahaya hingga dijuluki “lumba-lumba kamikaze”. Program tersebut disebut berkembang pada masa Perang Dingin ketika negara-negara besar berlomba mengembangkan teknologi dan strategi militer tidak biasa untuk memperkuat pertahanan mereka, termasuk memanfaatkan kemampuan hewan laut yang dianggap memiliki kecerdasan tinggi.
Pengamat sejarah militer menjelaskan bahwa Uni Soviet memang diketahui pernah memiliki program pelatihan mamalia laut untuk kepentingan militer di kawasan Laut Hitam. Lumba-lumba disebut dilatih untuk mendeteksi ranjau bawah laut, menjaga pelabuhan militer, hingga membantu pencarian objek tertentu di perairan. Dalam berbagai laporan dan cerita yang berkembang, muncul klaim bahwa sebagian lumba-lumba juga disiapkan untuk misi yang sangat berbahaya, meski banyak detail program tersebut masih menjadi perdebatan karena keterbatasan dokumen resmi yang dapat diakses publik. Program serupa sebenarnya juga pernah dikembangkan oleh beberapa negara lain karena lumba-lumba dianggap memiliki kemampuan navigasi dan sonar alami yang sangat baik.
Setelah runtuhnya Uni Soviet, berbagai aset dan program militer peninggalan era Perang Dingin disebut tersebar ke beberapa negara. Dalam sejumlah laporan internasional, Iran pernah dikaitkan dengan kabar pembelian atau ketertarikan terhadap lumba-lumba militer untuk kebutuhan keamanan maritim. Namun pengamat geopolitik menilai banyak informasi mengenai program hewan militer sering bercampur antara fakta, propaganda, dan spekulasi karena sebagian besar aktivitas tersebut bersifat rahasia. Meski demikian, kisah tentang lumba-lumba militer tetap menjadi salah satu cerita paling unik dalam sejarah persaingan militer global abad ke-20.
Penggunaan hewan dalam operasi militer sendiri telah lama menjadi bagian dari sejarah peperangan dunia. Selain lumba-lumba, berbagai negara pernah menggunakan anjing, merpati, kuda, hingga singa laut untuk mendukung operasi militer dan keamanan. Pengamat etika militer menyebut praktik tersebut kini semakin sering diperdebatkan karena menimbulkan pertanyaan mengenai kesejahteraan hewan dan batas pemanfaatan hewan dalam konflik manusia. Di era modern, perkembangan teknologi drone, sensor bawah laut, dan kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak fungsi yang dahulu dilakukan hewan dalam operasi militer.
Kisah lumba-lumba “kamikaze” peninggalan Uni Soviet kini tetap menjadi bagian menarik dari sejarah militer dunia yang penuh cerita unik dan kontroversial. Banyak pihak melihat cerita tersebut sebagai gambaran bagaimana persaingan geopolitik pada masa Perang Dingin mendorong lahirnya berbagai eksperimen dan strategi yang tidak biasa. Di tengah perkembangan teknologi militer modern, kisah penggunaan hewan dalam operasi pertahanan kini lebih sering dipandang sebagai bagian dari sejarah unik yang memperlihatkan kompleksitas persaingan global pada masa lalu.