Jakarta, 26 Mei 2026 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah muncul kekhawatiran bahwa Iran berpotensi melancarkan serangan balasan terhadap United Arab Emirates sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Sejumlah analis keamanan menilai eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan kelompok proksi di kawasan dapat memperluas medan konflik hingga negara-negara Teluk yang selama ini menjadi mitra strategis Amerika Serikat dan memiliki hubungan dengan Israel. Kekhawatiran tersebut muncul setelah Israel meningkatkan operasi militer di Lebanon terhadap Hezbollah yang didukung Iran, sementara Tehran terus mengeluarkan ancaman balasan terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung operasi militer Israel di kawasan.
Pengamat geopolitik menjelaskan bahwa UEA kini dipandang sebagai salah satu titik sensitif dalam konflik regional karena memiliki hubungan ekonomi dan keamanan yang semakin erat dengan Israel serta Amerika Serikat. Dalam beberapa bulan terakhir, laporan mengenai serangan drone dan ancaman terhadap fasilitas strategis di kawasan Teluk juga semakin sering muncul. Bahkan sebelumnya sempat muncul laporan mengenai serangan terhadap fasilitas penting di UEA yang diduga berkaitan dengan kelompok pro-Iran di kawasan. Situasi ini membuat negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan balasan Iran maupun kelompok sekutunya di Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon sendiri terus berkembang sejak meningkatnya serangan lintas batas antara Israel dan Hezbollah. Israel dalam beberapa hari terakhir disebut memperluas operasi militernya di Lebanon selatan dan wilayah strategis lainnya dengan alasan menghancurkan infrastruktur Hezbollah. Sebagai respons, Hezbollah meluncurkan serangan drone dan roket ke wilayah Israel, sementara Iran terus memberikan dukungan politik dan retorika keras terhadap kelompok tersebut. Di tengah situasi tersebut, negara-negara Teluk seperti UEA, Bahrain, dan Arab Saudi disebut berada dalam posisi rawan karena dianggap berada dalam orbit keamanan Amerika Serikat dan memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Pengamat keamanan internasional menilai kemungkinan Iran menyerang langsung UEA masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kalkulasi politik Tehran. Namun sejumlah laporan menyebut Iran sebelumnya pernah melancarkan serangan maupun ancaman terhadap fasilitas dan infrastruktur di kawasan Teluk sebagai bentuk tekanan geopolitik. Data konflik regional juga menunjukkan adanya serangan terhadap target di UEA dan Bahrain setelah meningkatnya eskalasi dengan Israel pada awal 2026. Oleh sebab itu, negara-negara Teluk kini memperkuat sistem pertahanan udara dan koordinasi keamanan regional untuk mengantisipasi potensi eskalasi yang lebih luas.
Situasi Timur Tengah saat ini dinilai berada dalam fase paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir karena konflik tidak lagi terbatas pada satu wilayah, tetapi mulai melibatkan banyak aktor regional dan kepentingan global. Banyak pengamat khawatir apabila Iran benar-benar melancarkan serangan baru terhadap UEA atau negara Teluk lainnya, maka konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih besar dan berdampak pada ekonomi global terutama sektor energi dan jalur perdagangan internasional. Masyarakat internasional kini terus memantau perkembangan diplomasi dan upaya negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencegah eskalasi lebih jauh di kawasan tersebut.