Jakarta, 28 Oktober 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, setelah dilaporkan merosot 1,34 persen hingga menyentuh level 5.195 pada awal sesi perdagangan. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif pasar saham domestik setelah indeks ditutup turun hampir dua persen pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan IHSG di zona merah menunjukkan bahwa tekanan jual masih membayangi aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah indeks saham utama turut mengalami koreksi sehingga mencerminkan pelemahan pada berbagai kelompok emiten. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi domestik dan global.
Tekanan terhadap IHSG sebenarnya telah terlihat sejak perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, ketika indeks ditutup melemah 106,96 poin atau 1,99 persen ke posisi 5.266,13. Sepanjang perdagangan tersebut, IHSG sempat bergerak turun hingga menyentuh level 5.182 sebelum akhirnya mengurangi sebagian pelemahannya menjelang penutupan. Aktivitas jual yang cukup besar membuat mayoritas saham berakhir di zona merah. Berdasarkan data perdagangan yang dilaporkan, sebanyak 611 saham mengalami penurunan, sementara hanya 100 saham yang menguat dan 82 saham tidak berubah. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp17,57 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 36,30 miliar saham. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar telah berlangsung sebelum perdagangan Rabu dimulai.
detikfinance
+1
Pada perdagangan Rabu pagi, sejumlah laporan mencatat IHSG mengawali sesi di kisaran 5.245 hingga 5.247 sebelum mengalami pergerakan lebih lanjut. Data RTI Business menunjukkan indeks berada di level 5.247,475 pada pukul 09.00 WIB, melemah sekitar 0,35 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Sementara itu, laporan pembukaan lainnya mencatat indeks berada di posisi 5.245,78 atau turun 0,39 persen. Dalam perkembangan perdagangan pagi, pelemahan dilaporkan semakin dalam hingga mencapai 1,34 persen pada level 5.195. Perbedaan angka tersebut menggambarkan perubahan indeks pada waktu pengamatan yang tidak sama. Dengan demikian, posisi 5.195 mencerminkan perkembangan pelemahan pada awal perdagangan, bukan angka pembukaan pertama yang dicatat seluruh penyedia data pasar.
+2
Sejumlah indeks saham berkapitalisasi besar juga bergerak melemah mengikuti tekanan pada IHSG. Indeks LQ45 dilaporkan turun 1,47 persen ke posisi 525,186, sedangkan IDX30 terkoreksi 1,63 persen hingga berada di level 294,736. Indeks IDX80 juga mengalami penurunan sebesar 1,56 persen ke posisi 77,403. Sementara itu, indeks IDXLQ45LCL melemah sekitar 1,47 persen menjadi 74,513. Koreksi yang terjadi pada berbagai indeks tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terbatas pada kelompok saham berkapitalisasi kecil. Pergerakan saham-saham unggulan turut menjadi perhatian karena memiliki pengaruh besar terhadap arah indeks secara keseluruhan.
Berdasarkan perkembangan perdagangan pagi, tekanan juga terlihat pada sejumlah sektor utama di Bursa Efek Indonesia. Sektor infrastruktur mencatat pelemahan sekitar 1,58 persen, disusul sektor industrial yang turun 1,17 persen. Sektor keuangan terkoreksi 0,44 persen, sementara sektor barang konsumen primer mengalami penurunan sekitar 0,40 persen. Sektor energi juga berada di zona merah dengan pelemahan yang lebih terbatas, yakni sekitar 0,23 persen. Meski demikian, tidak seluruh sektor mengalami penurunan karena sektor kesehatan, barang konsumen nonprimer, dan material dasar sempat mencatatkan penguatan. Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih melakukan seleksi terhadap saham tertentu di tengah tekanan pasar secara umum.
KabarBursa.com
Pada kelompok saham perbankan, pergerakan harga menunjukkan hasil yang beragam sepanjang perdagangan pagi. Saham PT Bank Central Asia Tbk dengan kode BBCA sempat menguat sekitar 1,02 persen menuju level Rp4.950. Sebaliknya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI mengalami koreksi sekitar 2,41 persen ke posisi Rp2.830. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kode BMRI juga melemah sekitar 1,81 persen menjadi Rp3.800. Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa saham dalam sektor yang sama tidak selalu mengalami perubahan harga dengan arah serupa. Kondisi fundamental perusahaan, aktivitas investor, serta perubahan ekspektasi pasar dapat memengaruhi keputusan transaksi terhadap masing-masing emiten.
KabarBursa.com
Tekanan pada pasar saham domestik turut berlangsung di tengah perhatian investor terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan kondisi pasar keuangan internasional. Pada perdagangan Selasa, rupiah tercatat melemah hingga berada di kisaran Rp18.145 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang dapat menjadi salah satu pertimbangan investor asing ketika menilai risiko investasi di pasar negara berkembang. Selain itu, perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan perubahan sentimen geopolitik turut menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar. Namun, penurunan IHSG tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan satu penyebab tunggal karena harga saham terbentuk melalui interaksi berbagai faktor ekonomi dan aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, perkembangan pasar perlu dianalisis secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab utama pelemahan indeks.
teropongbisnis.id
Aktivitas investor asing juga menjadi perhatian setelah pasar mencatatkan arus dana keluar dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Berdasarkan laporan pasar, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp5,38 triliun di seluruh pasar sepanjang 21 hingga 27 Oktober 2026. Pada pasar reguler, nilai penjualan bersih dilaporkan mencapai sekitar Rp6,36 triliun dalam periode yang sama. Tekanan jual tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga saham, terutama pada emiten yang memiliki porsi kepemilikan investor asing cukup besar. Meski demikian, aktivitas investor domestik tetap berperan dalam menentukan keseimbangan permintaan dan penawaran di bursa. Pergerakan dana asing juga perlu dilihat bersama perkembangan fundamental perusahaan dan kondisi ekonomi agar tidak menimbulkan penilaian yang terlalu sederhana terhadap arah pasar.
KabarBursa.com
Dari sisi analisis teknikal, sejumlah perusahaan sekuritas memperkirakan IHSG masih menghadapi risiko pergerakan yang berfluktuasi. Sinarmas Sekuritas sebelumnya mencermati bahwa penurunan indeks di bawah area 5.278 membuka kemungkinan pengujian level dukungan berikutnya. Dalam riset perdagangan Rabu, perusahaan tersebut menempatkan area 5.185 sebagai salah satu level support penting, disusul area 5.073 apabila tekanan berlanjut. Sementara itu, area resistance terdekat diperkirakan berada di sekitar 5.328 hingga 5.455. Level tersebut merupakan acuan analisis teknikal berdasarkan pergerakan harga sebelumnya, bukan jaminan bahwa indeks akan bergerak menuju posisi tertentu. Investor tetap perlu memperhatikan perubahan kondisi pasar karena proyeksi teknikal dapat berubah mengikuti aktivitas perdagangan dan munculnya informasi baru.
Emiten News
Pelemahan IHSG juga berlangsung ketika Bursa Efek Indonesia menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat transparansi dan pengawasan pasar modal. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah evaluasi terhadap mekanisme pengawasan transaksi tidak biasa serta penanganan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Perubahan metodologi penghitungan indeks juga menjadi bagian dari pembahasan reformasi pasar modal untuk meningkatkan kualitas representasi saham dalam IHSG. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap mekanisme perdagangan dan kualitas informasi pasar. Sementara itu, pelaku pasar masih menunggu perkembangan kondisi ekonomi serta respons investor terhadap berbagai kebijakan yang sedang disiapkan. Dengan IHSG sempat melemah hingga level 5.195 pada perdagangan pagi, perhatian kini tertuju pada kemampuan indeks menjaga area dukungan dan mengurangi tekanan jual hingga penutupan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026.