Jakarta, 26 September 2026 –
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan sejumlah saham yang cukup tajam sepanjang perdagangan 21–25 September 2026. Di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menjadi saham dengan kenaikan terbesar setelah melonjak 133,72 persen dalam sepekan. Sebaliknya, PT Steady Safe Tbk (SAFE) berada di posisi teratas saham yang mengalami penurunan dengan koreksi 40,19 persen. Pergerakan tersebut berlangsung ketika IHSG turun 3,09 persen dari 6.441,159 menjadi 6.241,892. Kapitalisasi pasar BEI juga menyusut 3,20 persen menjadi Rp10.905 triliun dari Rp11.266 triliun pada pekan sebelumnya.
FORU memimpin daftar top gainers setelah harga sahamnya bergerak dari Rp154 menjadi Rp360 per saham atau menguat 133,72 persen. Posisi berikutnya ditempati PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) yang melesat 81,69 persen dari Rp1.420 menjadi Rp2.580. PT Inter Delta Tbk (INTD) menyusul dengan kenaikan 67,48 persen menjadi Rp412, sedangkan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) meningkat 63,11 persen menjadi Rp336. PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) juga membukukan kenaikan 51,72 persen dan menutup perdagangan pekan tersebut pada Rp352 per saham.
Lima saham lainnya yang masuk jajaran sepuluh besar top gainers adalah PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) dengan kenaikan 34,29 persen menjadi Rp282 dan PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) yang menguat 34,25 persen menjadi Rp486. Berikutnya terdapat PT Martina Berto Tbk (MBTO) yang naik 33,77 persen dari Rp154 menjadi Rp206. PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) bertambah 31,33 persen menjadi Rp218, sementara PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) melengkapi daftar dengan kenaikan 29,65 persen dari Rp4.300 menjadi Rp5.575. Saham ASLI sendiri mengalami suspensi perdagangan oleh BEI pada Jumat, 25 September, setelah mencatatkan peningkatan harga kumulatif yang signifikan.
Pada kelompok top losers, SAFE mengalami koreksi paling dalam sebesar 40,19 persen sehingga berakhir pada harga Rp625 per saham. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) berada di urutan berikutnya dengan penurunan 31,03 persen menjadi Rp200. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) melemah 27,66 persen menjadi Rp136, sedangkan PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) turun 26,47 persen dan berakhir pada Rp50. PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) juga masuk lima besar saham dengan koreksi terdalam setelah turun 26,09 persen menjadi Rp68 per saham.
Tekanan juga terjadi pada PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang turun 25,22 persen menjadi Rp86 dan PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) yang terkoreksi tepat 25 persen menjadi Rp54. Selanjutnya, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) merosot 23,31 persen hingga berada di Rp102. PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) melemah 22,39 persen menjadi Rp1.040, sedangkan PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) menutup daftar sepuluh besar top losers dengan penurunan 22,35 persen menjadi Rp278. Besarnya koreksi sejumlah saham tersebut terjadi bersamaan dengan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik selama sepekan.
Aktivitas transaksi BEI juga menunjukkan perubahan dibandingkan pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian turun 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun, sementara rata-rata volume transaksi harian justru meningkat 2,04 persen menjadi 29,20 miliar lembar saham dari sebelumnya 28,61 miliar lembar. Sepanjang periode 21–25 September, investor domestik membukukan pembelian bersih sekitar Rp3,16 triliun dengan nilai pembelian Rp41,08 triliun dan penjualan Rp37,92 triliun. Pada saat bersamaan, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp3,16 triliun. Khusus perdagangan Jumat, 25 September, net sell investor asing tercatat Rp559,16 miliar sehingga akumulasi penjualan bersih asing sepanjang 2026 mencapai Rp77,52 triliun.
Perbedaan tajam antara saham-saham top gainers dan losers memperlihatkan bahwa peluang penguatan tetap muncul meskipun IHSG secara keseluruhan berada dalam tekanan. Kenaikan FORU hingga lebih dari dua kali lipat menjadi pergerakan paling menonjol pada pekan tersebut, disusul TRUK, INTD, UNSP, dan WAPO. Sementara itu, koreksi SAFE, MSIN, MNCN, KPIG, dan sejumlah saham lainnya menunjukkan besarnya volatilitas yang berlangsung di beberapa emiten. Investor tetap perlu mencermati likuiditas, keterbukaan informasi, aksi korporasi, serta fundamental masing-masing perusahaan karena kenaikan atau penurunan harga dalam waktu singkat tidak selalu menggambarkan prospek jangka panjang. Pergerakan pasar pada pekan berikutnya akan kembali dipengaruhi sentimen domestik maupun global serta respons investor terhadap tekanan yang membawa IHSG turun ke level 6.241,892.