Jakarta, 14 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto membawa tiga pesan utama Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang berlangsung di New Delhi, India. Tiga pesan tersebut menitikberatkan pada penguatan kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South, serta peningkatan kerja sama konkret di antara anggota BRICS. Dalam pandangan Prabowo, kekuatan sebuah negara harus dimulai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyat tanpa ketergantungan berlebihan terhadap pihak lain. Ketahanan pangan, energi, dan pendidikan menjadi sektor yang mendapatkan perhatian khusus karena mempunyai hubungan langsung dengan kedaulatan serta kesejahteraan masyarakat. Fondasi domestik yang kuat dinilai akan memberikan ruang lebih besar bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan berdasarkan kepentingan nasional. Pesan tersebut disampaikan Prabowo dalam rangkaian KTT BRICS ke-18 yang digelar pada 12–13 September 2026.
Pesan pertama yang dibawa Prabowo berkaitan dengan pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Pemerintah memandang sebuah negara akan mempunyai posisi lebih kuat apabila mampu menyediakan kebutuhan mendasar bagi rakyatnya sendiri. Pangan menjadi salah satu fondasi karena ketersediaannya menentukan stabilitas sosial sekaligus ketahanan masyarakat menghadapi perubahan kondisi global. Energi mempunyai posisi yang tidak kalah penting karena hampir seluruh kegiatan ekonomi membutuhkan pasokan yang aman dan terjangkau. Pendidikan kemudian menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia agar negara mempunyai kemampuan mengembangkan teknologi serta meningkatkan produktivitas. Ketiga sektor tersebut dipandang saling berkaitan dalam membangun kemampuan Indonesia berdiri lebih mandiri di tengah perubahan dunia.
Prabowo menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu contoh bagaimana kemampuan domestik dapat memperkuat posisi sebuah negara. Indonesia selama bertahun-tahun masih membutuhkan impor beberapa komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah kini berupaya memperkuat produksi agar ketergantungan tersebut dapat dikurangi secara bertahap. Dalam forum BRICS, Prabowo juga menyinggung perkembangan Indonesia yang mulai bergerak dari posisi importir menuju kemampuan mengekspor sejumlah komoditas pangan. Perubahan tersebut dipandang sebagai bagian dari usaha membangun ketahanan nasional yang lebih kuat. Jika kebutuhan dasar dapat dipenuhi dari kemampuan sendiri, Indonesia dinilai mempunyai ruang kebijakan yang lebih besar ketika menghadapi ketidakpastian pasar internasional.
Ketahanan energi mempunyai prinsip yang serupa karena perubahan geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi harga dan ketersediaan energi dunia. Negara yang terlalu bergantung terhadap pasokan dari luar mempunyai risiko lebih besar ketika terjadi konflik, gangguan rantai pasok, maupun lonjakan harga komoditas. Pemerintah karena itu menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda strategis pembangunan. Indonesia mempunyai berbagai sumber energi mulai dari minyak dan gas, batu bara, panas bumi, tenaga air, bioenergi, hingga energi surya. Pemanfaatan sumber daya tersebut perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Kerja sama teknologi dan investasi dengan negara-negara BRICS juga dapat menjadi salah satu jalan mempercepat pengembangan sektor energi.
Pesan kedua Prabowo adalah pentingnya memperkuat persatuan negara-negara Global South. Presiden mengingatkan kembali semangat Konferensi Asia-Afrika yang pernah mempertemukan negara-negara berkembang untuk memperjuangkan kepentingan secara lebih mandiri. Semangat tersebut dinilai masih relevan ketika struktur ekonomi dan geopolitik dunia mengalami perubahan besar. Negara-negara berkembang kini mempunyai kontribusi semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi, populasi, perdagangan, serta sumber daya dunia. Dengan posisi tersebut, Global South dinilai mempunyai kesempatan lebih besar untuk ikut menentukan arah tata kelola internasional. Namun, pengaruh tersebut membutuhkan kebersamaan agar kepentingan negara berkembang dapat disuarakan secara lebih kuat.
Prabowo menggunakan semangat persatuan sebagai dasar dalam melihat hubungan antarnegara berkembang. Negara-negara Global South mempunyai karakter dan kepentingan berbeda, tetapi banyak di antaranya menghadapi tantangan yang serupa seperti ketahanan pangan, energi, pembangunan infrastruktur, akses teknologi, dan pembiayaan pembangunan. Kerja sama dapat membuat negara berkembang tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan tersebut secara sendiri-sendiri. Pertukaran teknologi, perdagangan, investasi, serta pengembangan sumber daya manusia dapat memberikan keuntungan bersama. Indonesia melihat BRICS sebagai salah satu wadah yang mempunyai kapasitas untuk memperluas kolaborasi tersebut. Persatuan tidak dimaksudkan untuk membentuk pertentangan dengan kelompok negara lain, melainkan memperkuat posisi negara berkembang dalam hubungan internasional yang lebih setara.
Pesan ketiga berkaitan dengan kebutuhan membuat BRICS menghasilkan kerja sama yang semakin konkret. Prabowo menilai kekuatan kelompok tersebut harus diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung kepada negara anggota dan masyarakatnya. Kerja sama dapat diperkuat pada sektor pangan, energi, pendidikan, teknologi, perdagangan, investasi, logistik, dan pembangunan infrastruktur. Indonesia juga mendorong BRICS memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan global yang lebih inklusif. Besarnya populasi dan kekuatan ekonomi negara anggota membuat kelompok tersebut mempunyai kapasitas besar untuk memengaruhi arah perekonomian dunia. Potensi itu dinilai perlu digunakan untuk menciptakan stabilitas dan membuka kesempatan pembangunan lebih luas.
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS memberikan ruang tambahan untuk memperluas hubungan ekonomi dengan berbagai negara besar dan berkembang. Indonesia dapat memanfaatkan forum tersebut untuk memperluas pasar ekspor sekaligus menarik investasi pada sektor strategis. Kerja sama teknologi juga menjadi penting karena transformasi ekonomi membutuhkan kemampuan yang tidak seluruhnya dapat dikembangkan dalam waktu singkat secara domestik. Pada sektor energi, misalnya, kolaborasi dapat mencakup pengembangan energi terbarukan, infrastruktur, teknologi penyimpanan energi, hingga pengelolaan mineral kritis. Pada sektor pangan, kerja sama dapat diarahkan pada teknologi pertanian, pupuk, pengelolaan air, serta peningkatan produktivitas. Hasil konkret seperti itulah yang diharapkan membuat keikutsertaan Indonesia dalam BRICS memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.
Dalam rangkaian KTT, Prabowo juga menekankan bahwa kebersamaan di antara negara anggota dapat meningkatkan ketahanan masing-masing negara. Dunia menghadapi berbagai tekanan mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, ketidakpastian perdagangan, hingga gangguan rantai pasok. Tidak semua persoalan tersebut dapat ditangani secara individual karena dampaknya melintasi batas negara. Kerja sama multilateral menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi kerentanan tersebut. BRICS mempunyai sumber daya, pasar, kemampuan industri, serta kapasitas teknologi yang besar apabila digabungkan. Indonesia mendorong kekuatan tersebut digunakan untuk menciptakan solusi dan bukan memperbesar fragmentasi dunia.
Kemandirian yang disampaikan Prabowo juga tidak berarti Indonesia memilih menutup diri dari perdagangan dan kerja sama internasional. Sebaliknya, kemampuan domestik yang kuat dipandang sebagai modal agar kerja sama dapat berlangsung dengan posisi yang lebih seimbang. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan strategis mempunyai daya tahan lebih baik ketika menghadapi tekanan eksternal. Pada saat yang sama, hubungan internasional tetap diperlukan untuk mendapatkan pasar, investasi, teknologi, dan pertukaran pengetahuan. Indonesia berupaya menempatkan kedua pendekatan tersebut secara bersamaan. Kemandirian nasional diperkuat dari dalam, sementara jaringan kerja sama diperluas melalui berbagai forum internasional.
Perjalanan Prabowo menghadiri KTT BRICS 2026 juga menjadi bagian dari upaya Indonesia meningkatkan peranan dalam percaturan Global South. Setelah menyelesaikan rangkaian agenda di New Delhi, Presiden kembali ke Tanah Air pada Senin dini hari. Keikutsertaan sebagai anggota penuh memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk terlibat lebih aktif dalam pembahasan mengenai tata kelola global dan agenda pembangunan negara berkembang. Pemerintah ingin memastikan posisi tersebut menghasilkan manfaat yang dapat diterjemahkan menjadi program domestik. Karena itu, implementasi hasil pertemuan menjadi tahapan penting setelah diplomasi tingkat tinggi selesai dilakukan.
Tiga pesan yang dibawa Prabowo pada akhirnya memperlihatkan arah diplomasi Indonesia yang menghubungkan kepentingan domestik dengan perubahan tata dunia. Kemandirian dan ketahanan nasional ditempatkan sebagai fondasi, persatuan Global South menjadi kekuatan kolektif, sedangkan kerja sama konkret BRICS diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata. Ketahanan pangan, energi, dan pendidikan menjadi bagian penting karena menentukan kemampuan negara menghadapi berbagai tekanan global. Indonesia juga ingin memastikan negara berkembang mempunyai suara yang lebih kuat dalam menentukan masa depan ekonomi dan politik internasional. Dengan fondasi nasional yang semakin kokoh dan kerja sama internasional yang setara, pemerintah berharap Indonesia tidak mudah bergantung maupun didikte oleh kekuatan tertentu. KTT BRICS 2026 pun menjadi salah satu panggung bagi Indonesia untuk menegaskan arah tersebut kepada dunia.